Opini

Sketsa Orang-Orang

 

Oleh : Herdianto WK

ANAK KEPADA IBUNYA
2 anak pemulung di emperan mal, berlari-lari kecil sambil tertawa, menghampiri dan menarik-narik tangan ibunya,
“ Ayo Bu, ikutlah dengan kami tertawa-tawa. “
“ . . . . Ada apa . . . .”
“ Aku sudah lelah melihatmu menangis. “

KAKEK KEPADA CUCUNYA
Tengah malam di parkir stasiun, Kakek tua memegang sapu duduk termangu.
“ Belum pulang, Kek?”
“ Gak setiap hari pulang. Nunggu cucu datang seminggu sekali minta uang jajan, bensin, pulsa, dan tidak selalu mengajak pulang.”

ORANG-ORANG KANTORAN
Keluar dari restroom Saya menuju pantry. Kantor pemerintah di lantai 30 ini ketat menerapkan aturan larangan merokok. Akhirnya pantry jadi tempat para smoker dan office boy berkumpul. Saya ke pantry untuk nebeng ngecharge hp.
“ Kok banyak baju?”
“ Baju anak-anak yang tidur di sini, Pak?”, kata salah satu OB
“ Oooo banyak juga teman-temanmu yang tidur di kantor?”
“ Tidak hanya OB, tapi PNS ada juga, Pak.”
“ Oooo yang muda-muda dan masih bujangan.”
“ Yang sudah tua juga ada, Pak.”
“ Looo untuk apa?”, sahutku kaget.
“ Menghemat ongkos transport dan sewa kontrakan, Pak!”

ORANG-ORANG DALAM ETALASE
Longue Fairmont Senayan
Malam barulah beranjak.
Tak banyak tamu.
Musik slow rock jadul perlahan tak mengganggu pembicaraan.
“ Saya Senin dilantik.”
“ Uihhh selamat. Itu karir tertinggi seorang birokrat, selanjutnya adalah jabatan politis.”, sahutku spontan berdiri menyalami. 20 tahun kami berteman tanpa putus.
“ Ya, tapi yang Saya ganti kena ciduk.”
“ Itu masalah orang lain, walau kamu pasti ikutan bersih-bersih.”
“ Masalahnya modusnya tetap, menerima dan mendistribusikan, tak bisa ditolak.”
“ Bisa didelegasikan?”
“ Untuk yang levelku tak bisa. Seperti ke kamar mandi, harus kita sendiri.” Saya diam. Dia tertunduk.
“ I don’t want to talk about it,” terdengar Rod Stewart menyanyi.
“ Yuk kita istirahat. Bermalamlah di sini. Saya sudah ambilkan satu kamar untukmu, agar esok kita bisa sahur bersama dan lanjut golf.”

Saya menatapnya hendak menyanggah, tapi dia sudah berdiri melangkah ke arah lift. Saya tak tega. Saya ikuti langkahnya. Raut mukanya dinign, gelisah. Dia lupa kalau saya tidak main golf, pegang stick saja belum pernah.

KACA
Adakala kita melihat ke cermin, bukan bayangan yang kita harapkan.
Adakala kita memandang orang terlalu over / under estimated.
Empati dan simpati bisa jadi filter yang membuat kita dapat memahaminya secara proporsional.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jasa Website Murah & Profesional
Close