Bisnis

Pemprov Banten Upayakan Harga Kedelai Stabil

Wartahotnews – Harga kedelai melonjak mencapai Rp 10.200 per kilogram, kondisi ini mendrong Dinas Pertanian Provinsi Banten berupaya meningkatkan produksi pertanian kedelai yang banyak dibutuhkan pengrajin tahu tempe.

Upaya dilakukan Dinas Pertanian Provinsi Banten adalah dengan meningkatkan produksi kedelai lokal dengan memberikan bantuan benih dan sarana produksi kepada petani dengan area tanam seluas 2.050 hektar dari anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Banten. Selain memberikan bantuan, Dinas Pertanian Provinsi Banten akan memberikan pembinaan kepada petani secara terus menerus, terutama paska panen.

Kepala Dinas Pertanian Provisi Banten Agus Tauhid mengatakan anggaran bantuan benih dan sarana produksi sudah dianggarkan di Tahun 2020. Namun karena rofocusing anggaran, maka bantuan tersebut kembali dianggarkan di Tahun 2021.

“ Salah satu dukungan pemerintah untuk meningkatkan produski kedelai di Banten adalah dengan memberikan bantuan benih dan saraa produksi untuk petani. Namun di Tahun 2020, anggaran bantuan benih dan saprodi mengalami refocusing anggaran sehinga pencapaian produksi kedelai di Tahun 2020 sebagian besar berasal dari swadaya petani ” kata Agus Tauchid,

Menueut Agus Tauchid, kedelai lokal yang dihasikan petani Banten memiliki ukuran bervariasi sehingga lebih banyak diserap industri tahu. Sedangkan, industri tempe tidak menggunakan kedelai lokal karena produksi tempe memerlukan kedelai yang ukuran kacangnya sama.

“ Upaya yang dilakukan petani adalah melakukan sortir kedelai yang dipanen. Untuk ukuran besar dipasarkan ke industri tempe, dan sisanya dipasarkan ke industri tahu “ kata Agus Tauchid (18/3).

Kualitas kedelai lokal menurut Agus Tauchid lebih baik karena umumnya kedelai yang tersedia adalah kedelai yang baru saja dipanen sehingga lebih segar, sementara kedelai import biasanya sudah disimpan bertahun-tahun.

“ Kedalai lokal merupakan kedelai asli hayati dan bukan kedelai transgenik seperti kedelai impor. Kedelai yang ditanam di negar-negara maju 80 persen adalah organisme yang telah dimodifikasi secara genetik (GMO) “ jelas Agus.

Pengusaha tempe dan tahu lebih tertarik mengngunakan kedelai lokal karena adanya kelonggaran pembayaran dari pemasok kedelai impor, selian harga kedelai impor yang lebih murah dibandingn kedelai lokal. Untuk mengatasi kondisi ini perlu peran BUMD sebagai off taker kedelai.

“ Dengan kondisi ini diperlulkan peran BUMD sebagai off taker kedelai yang dapat memutus rantai pasokan kedelai lokal sehingga harga kedelai lokal lebih bersaing di pasaran dan indsutri tahu tempe bisa diberikan keleluasaan pembayaran bahan baku seperti yang diberikan pemasok kedelai impor “  ujar Agus Tauchid.(wk)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jasa Website Murah & Profesional
Close